Top 3 News: Teror Molotov di Markas PDIP

Top 3 News: Teror Molotov di Markas PDIP

Liputan6.com, Jakarta – Top 3 news hari ini terkait aksi pelemparan molotov oleh orang tak dikenal di Kantor Pengurus Anak Cabang (PAC) PDIP Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Selasa dini hari, 28 Juli 2020.

Aksi serupa juga kembali terjadi pada Rabu dini hari kemarin. Sasaran kali ini adalah Kantor Sekretariat PAC PDIP Cileungsi, Bogor. 

Ada tiga molotov yang dilempar. Masing-masing dirangkai dalam botol bekas minuman energi yang berisi bahan bakar bensin. Terkait hal ini, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyebut hal itu sebagai tindakan pengecut.

Sementara berita lain yang turut menjadi sorotan adalah temuan 200 kilogram sabu siap edar yang berhasil diamankan petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) dari sebuah gudang beras dan jagung di Tangerang, Selasa, 28 Juli 2020.

Bersama barang bukti, BNN juga mengamankan enam orang tersangka. Untuk mengelabui aparat, para tersangka menyimpan 200 kilogram paket sabu di 50 karung berisi jagung kering

Sementara itu, Ahli epidemiologi Universitas Indonesia, Pandu Riono mengungkap alasan utama  kenapa kasus Covid-19 di Indonesia terus melonjak. Penyebabnya karena tingkat kedisiplinan masyarakat untuk menggunakan masker sangat kurang.

Berikut deretan berita terpopuler di kanal News Liputan6.com, sepanjang Rabu, 29 Juli 2020:

2 dari 5 halaman

1. Kantor PDIP Dilempar Bom Molotov, Hasto Minta Kader Tetap Tenang

Kantor Pengurus Anak Cabang (PAC) PDIP Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, dilempar bom molotov pada Selasa, 28 Juli 2020 sekitar 02.30 WIB.

Terkait hal ini, DPP PDIP mengecam keras aksi tersebut. Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyebut hal itu adalah tindakan pengecut.

“Pelemparan bom molotov adalah tindakan pengecut, dan memiliki motif ideologis. Serangan ke kantor PAC tersebut adalah serangan atas demokrasi, serangan terhadap kemanusiaan, dan serangan atas tatanan kehidupan masyarakat yang mendambakan hidup tenteram,” kata Hasto di Jakarta, Rabu (29/7/2020).

Dia pun meminta akar rumput PDIP tetap tenang menyikapi masalah ini. Serta tetap bekerja keras dalam membantu rakyat. Menurut dia, tindakan teror tidak boleh dibiarkan terjadi.

Selengkapnya…

3 dari 5 halaman

2. Total Ada 200 Kg Sabu yang Disita BNN dari Gudang Beras di Tangerang

Setidaknya ada 200 kilogram paket sabu siap edar yang ditemukan aparat Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam penggerebekan di gudang beras dan jagung di Jalan Prabu Siliwangi, Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang, pada Selasa, 28 Juli 2020. 

200 kilogram paket narkoba ini ditemukan berada di 50 karung berisi jagung kering. Setiap karung berisi 4 paket narkoba dengan berat masing-masing satu kilogram sabu.

“Barang bukti sabu atau amfetamin yang kita temukan kurang lebih 200 kilogram. Namun demikian ini bisa bertambah karena seluruh karung belum diperiksa,” ujar Deputi Pemberantasan BNN, Irjen Arman Depari di lokasi penggerebekan, Selasa.

Arman menjelaskan bahwa barang haram tersebut diangkut dum truk yang berpelat nomor asal Sumatera, kemudian menyebrangi laut, tiba di Banten hingga menuju Tangerang.

Selengkapnya…

4 dari 5 halaman

3. Ahli Epidemiologi Ungkap Penyebab Utama Kasus Corona Covid-19 Terus Melonjak

Ahli epidemiologi Universitas Indonesia, Pandu Riono mengungkapkan bahwa alasan utama kasus Covid-19 di Indonesia terus melonjak dikarenakan kedisiplinan masyarakat dalam memakai masker berkurang.

Menurutnya, cara utama mencegah tertularnya virus Corona yaitu dengan memakai masker. Masker merupakan benteng utama yang bisa melindungi diri dari Covid-19.

“Ya pakai masker. Sudah. Itu kuncinya,” kata Pandu saat dihubungi merdeka.com, Selasa 28 Juli 2020.

Mungkin masyarakat terdengar bosan dengan anjuran pemerintah maupun para ahli yang menyuruh untuk selalu mematuhi protokol kesehatan.

Namun sejauh ini, Pandu mengakui bahwasanya memang betul-betul tidak ada cara lain yang bisa dilakukan masyarakat selain disiplin menerapkan protokol kesehatan. Terutama menggunakan masker.

Selengkapnya…

5 dari 5 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: