Kata Pemkot Makassar Soal Pernyataan ‘Herd Immunity Berbasis Lokal’

Kata Pemkot Makassar Soal Pernyataan 'Herd Immunity Berbasis Lokal'

Liputan6.com, Makassar – Kebijakan ‘herd immunity berbasis lokal’ yang dicanangkan Pemkot Makassar dalam menghadapi wabah virus corona (Covid-19) sempat membuat heboh masyarakat. Mengingat kebijakan herd immunity di tengah vaksin yang belum ditemukan menjadi sangat berbahaya. 

Kabag Humas Pemkot Makassar, Firman Pagarra saat dikonfirmasi soal hal tersebut, Rabu (10/6/2020) membenarkan adanya pernyataan tersebut, namun dirinya berkelit bahwa yang dimaksud herd immunity berbasis lokal hanya sebuah narasi protokol kesehatan yang berisikan 5 pesan, yaitu menggunakan masker, jaga jarak, cuci tangan dengan rutin, berolahraga, dan pemenuhan nutrisi lokal untuk daya tahan tubuh dengan cara mengonsumsi sari buah jahe, kunyit, mengkudu, dan sejenisnya.

“Esensi herd immunity sangat jelas merupakan sistem yang diambil untuk membentuk antibodi sekelompok orang dengan membiarkan mereka berinteraksi satu dengan lainnya secara protokol kesehatan, di tengah new normal,” ungkapnya.

Sementara ‘berbasis lokal’, katanya, adalah dengan memanfaatkan potensi nilai sumber daya alam, seperti memanfaatkan pekarangan terbatas dengan bercocok tanaman sayuran organik, tanaman apotek hidup. Kemudian ditopang dengan nilai kearifan lokal, etnis, budaya, suku besar, yang ada di kota Makassar, seperti saling mengingatkan (Sipakainga) saling memanusiakan (Sipakatau) saling mengasihi dan membantu (Sipakalebbi).

Dirinya memastikan, kenormalan baru di Makassar bukan untuk bentuk herd immunity, tapi untuk kembali bangkit dengan pola hidup yang baru.

2 dari 3 halaman

Klaim Tim Gugus Tugas Covid-19 Sulsel

Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sulsel menyebutkan kasus penyebaran virus tersebut terkontrol, yang terlihat pada dua minggu terakhir mulai hari ke 71-84, reproductive number (Ro) sudah turun ke Rt 0,9 dengan interval 0,9-1,1.

Tim Konsultan Covid-19 Sulsel Ansariadi menjelaskan di Makassar, Minggu, evaluasi peningkatan kasus dilakukan dari waktu ke waktu tapi kurva yang ditampilkan tidak berdasarkan harian sebab hasilnya kadang berbeda, kapan terjadinya penyakit dengan kapan diumumkan.

“Seperti yang kita temukan ternyata yang diumumkan terjadi akumulasi dari beberapa hari lalu. Sehingga kita bisa keluarkan kurva epidemologinya. Dan kita lihat ada peningkatan dan penurunan, ini melihat juga kapan PSBB dilakukan dan bagaimana efeknya,” ujar Ansariadi dalam keterangannya di Makassar, Minggu.

Kurva inilah yang menjadi dasar menghitung reproductive number dan terlihat bahwa dalam dua minggu terakhir sudah ada penurunan, (Rt) 0,9 sampai 1,1.

“Intinya adalah dalam suasana yang bisa dikontrol, terkendali, misalnya ada tiga kasus tetapi terkendali dan tidak menimbulkan wabah luar biasa, maksud saya tidak dalam jumlah di luar ekspektasi kita,” jelasnya.

Sedangkan terkait New Normal ketika aktivitas dibuka kembali, seperti sekolah dan masjid, evaluasi perlu dilakukan satu sampai dua minggu ke depan bagaimana tren penurunan dan sejauh mana masyarakat mampu menerapkan protokol sehat di masa New Normal.

“Saya berharap tidak hanya mengimbau masyarakat. Karena sebagian masyarakat bisa lakukan. Tetapi mungkin sebagian besar tidak mampu, kita harus membuat mereka mampu. Apa fasilitas yang diberikan kepada mereka. Misalnya di sekolah, pemberian alat cuci tangan. Saya kira ini pekerjaan berat pemerintah ke depan,” katanya.

3 dari 3 halaman

Simak juga video pilihan berikut ini: